Thursday, December 21, 2006

Berdialog dengan masyarakat Karo.

Tanggal 17 Nopember 1995,kami dari Tim Amdal PLN Pusat,Tim Teknis Ditjen LPE dan konsultan yang menyusun study Amdal Rencana Pembangunan PLTA Tigabinanga di kabupaten Tanah Karo,berangkat dari Jakarta menuju Medan.Di Medan kami langsung mengadakan diskusi intern PLN di kantor PLN Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan Sumatera Bagian Utara.Besoknya tanggal 18 Nopember 1995,kami serombongan mengadakan Public Hearing didaerah Tigabinanga,di kabupaten Tanah Karo,dengan dihadiri warga masyarakat serta pejabat PEMDA setempat.Diskusi banyak soal ganti rugi tanah,dan yg menarik secara khusus,masyarakat meminta biaya khusus untuk pemindahan makam para leluhur mereka.Saya teringat akan budaya didaerah saya pulau Samosir,yg hampir sama adatnya,karena memang banyak warga meyakini bahwa Karo adalah sub etnis dari Batak,tetapi ada juga yg keberatan mereka disebut Batak Karo.Soal permintaan masyarakat,kami dari PLN menyanggupi asal itu dalam batas-batas kewajaran.Besoknya pada tanggal 19 Nopember 1995,kami berdiskusi dengan Pemda Sumatera Utara dengan mengambil tempat di kantor Bappeda Sumatera Utara.Atas rekomendasi dari Dengar Pendapat di Tigabinanga,rapat berjalan lancar.Semua pihak mendukung pembangunan PLTA Tigabinanga,untuk mendukung sistim kelistrikan Sumatera Utara.Karena adanya krisis ekonomi dan politik pada tahun 1998,maka pembangunan banyak yg tertunda. Pada saat kenangan ini saya tulis,krisis listrik benar-benar terjadi,leluconnya, makan obat 3 kali sehari,listrik di Medan padam 3 kali sehari.Semoga Pemerintah dan PLN segera dapat mengatasi keadaan yg menyedihkan ini.Mantan Wakil Ketua Tim Amdal PLN,Ir Berlin Simarmata MM.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home